Salam Dari Direktur

“ Dari Mustahik Menjadi Muzaki ”

Kemiskinan dapat mempengaruhi akidah umat. Salah satu sebab orang yang keluar dari agamanya adalah karena kemiskinan dan kefakiran. Islam memerintahkan umatnya untuk menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia dengan dua tujuan, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia serta kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di akhirat. Secara sederhana, hablun minaalloh dapat diartikan bahwa seorang muslim harus secara tulus dan ikhlas bahwa seluruh aktivitasnya hanya untuk mengabdi kepada Allah. Sedangkan hablun minannas dapat diartikan bahwa seorang muslim harus mempunyai kepedulian dengan orang lain. Kepedulian dengan orang lain adalah sebuah keharusan agar seorang muslim merasa memiliki tanggungjawab untuk memberikan solusi atas permasalahan umat termasuk kemiskinan.

(Yusuf Qorhdowi) menyatakan bahwa kemiskinan merupakan salah satu penyebab munculnya permasalahan ekonomi karena lemahnya sumber penghasilan. Pakar ekonomi melihat kemiskinan dari berbagai aspek. Pada aspek primer kemiskinan terlihat dari miskin asset, organisasi sosial politik, pendidikan, dan keterampilan.

Negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam masih tergolong negara berkembang dan memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Satu contoh yang pantas untuk dikemukakan adalah negara Indonesia yang merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Angka kemiskinan di Indonesia terbilang cukup tinggi. penyebab utama kemiskinan adalah karena kelemahan dari segi permodalan. Kelemahan modal disebabkan karena ketidak mampuan untuk memanfaatkan dan mengembangkan sumberdaya alam. Dengan demikian kemiskinan tidak berdiri sendiri, banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya kemiskinan. Analisis kepada faktor-faktor penyebab kemiskinan akan menghasilkan sebuah langkah-langkah yang tepat dalam mengatasi kemiskinan tersebut.

Salah satu cara menanggulangi kemiskinan adalah dukungan orang yang mampu dalam bidang finansial untuk mengeluarkan harta kekayaan mereka dengan berupa dana zakat kepada mereka yang kekurangan. Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yanga telah memenuhi syarat-syarat tertentu seperti sholat, haji, dan puasa. Di samping itu, zakat merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang strategis dan sangat berpengaruh pada pembangunan ekonomi umat.

Tujuan zakat tidak sekedar menyantuni orang miskin secara konsumtif, tetapi mempunyai tujuan yang lebih permanen yaitu mengentaskan kemiskinan, Sebagian orang-orang Islampun berkeyakinan bahwa zakat memunyai peran penting dalam pengentasan kemiskinan. pada sisi lain, potensi zakat menunjukan angka yang sangat fantastis. akan tetapi sangat disayangkan bahwa potensi zakat yang besar tersebut belum dapat tergali secara maksimal di Indonesia, sehingga tidak mengherankan jika angka kemiskinan di Indonesia masih cukup besar. Pertanyaan yang akan muncul kemudian dari kenyataan seperti ini adalah mengapa potensi zakat yang besar tersebut belum dapat tergali secara maksimal.

Melihat realitas yang ada maka zakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sulit terwujud apabila tidak ada peran aktif dari para muzakki dan pengelola zakat. Para muzakki harus sadar betul bahwa tujuan mereka berzakat tidak hanya semata-mata menggugurkan kewajibannya akan tetapi lebih luas yaitu untuk mengentaskan kemiskinan. Pengelola zakat (amil) juga dituntut harus profesional dan inovatif dalam pengelolaan dana zakat. Salah satu model pengelolaan zakat yang inovatif adalah pengelolaan zakat secara produktif, di mana dengan motode ini diharapkan akan mempercepat upaya mengentaskan masyarakat dari garis kemiskinan, mereka pada awalnya adalah golongan mustahik kemudian menjadi seorang muzakki.

Pengelolaan distribusi zakat yang diterapkan di Indonesia terdapat dua macam kategori, yaitu distribusi secara konsumtif dan produktif. Zakat produktif merupakan zakat yang diberikan kepada mustahik sebagai modal untuk menjalankan suatu kegiatan ekonomi dalam bentuk usaha, yaitu untuk mengembangkan tingkat ekonomi dan potensi produktifitas mustahiq.

Saat ini, meski masih banyak yang pendayagunakan harta hasil zakat secara konsumtif, akan tetapi sudah mulai muncul pendayagunaan hasil zakat secara produktif di BAMUIS BNI Jakarta Kinerja lembaga tersebut telah mengalami kemajuan dan menerapkan metode pemberdayaan mustahiq zakat untuk usaha produktif. Salah satu program yang telah digulirkan Program Pemberdayaan ekonomi/modal usaha diharapankan agar para mustahiq mampu memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan serta kedepan diharapkan menjadi muzakki dari hasil pengembangan harta zakat tersebut.

Akhirnya semoga Allah SWT menerima semua ikhtiar kita selama ini sebagai amal sholeh di sisinya yang kelak akan dibalas dengan balasan yang terbaik. Amin

Direktur Eksekutif BAMUIS BNI
Drs. H. Sudirman, MBA