KEUTAMAAN MELAPANGKAN URUSAN SAUDARA

Umat Islam diibaratkan sebagai satu bangunan. Satu sama lain saling memperkokoh dan menguatkan. Ketika ada saudara sesama umat Islam tertimpa musibah, maka ikut pula merasakan kesedihan yang melandanya. Bahu membahu meringankan beban yang ditanggung umat Islam lainnya. Rasulullah Saw. bersabda:

“Perumpamaan orang mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi seperti tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw. menggambarkan besarnya pahala menolong saudara seiman sebagai suatu amalan yang dicintai Allah. Rasulullah bersabda:

“Amalan yang paling dicintai Allah Swt. adalah menyenangkan seorang muslim, mengatasi kesulitannya, menghilangkan laparnya, atau membayarkan hutangnya.” (HR. Thabrani)

Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah menyayangi hambaNya yang penyayang. Di samping itu, Allah juga menjanjikan pertolongan baginya di akhirat kelak. Rasulullah Saw. bersabda:

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah Swt. memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat”. (HR. Muslim)

Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa kesusahan yang dimaksud dalam hadis diatas adalah beban berat yang ditanggung orang mukmin. Kesusahan tersebut sampai membuat dirinya sangat sedih dan menderita. Dengan uluran saudara sesama muslim, ia merasa ringan dalam menghadapi segala rintangan dan kesusahan yang dihadapinya. Usaha tersebut kelak akan dibalas oleh Allah Swt. di akhirat dengan balasan yang besar. Begitu keutamaan meringankan beban sesama muslim sebagaimana termaktub di dalam hadis di atas.

Pada hakikatnya, upaya meringankan kesulitan saudara sesama muslim, manfaatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebab, setiap muslim di akhirat kelak akan membutuhkan pertolongan Allah Swt.

Dikisahkan Abu Nasr As-Sayyad merupakan seorang nelayan yang sangat miskin. Suatu hari, dia kehabisan makanan untuk istri dan anaknya. Abu Nasr pun pergi ke masjid dan menangis. Imam masjid yang melihatnya membawa Abu Nasr ke pinggir sungai dan memintanya shalat, kemudian melemparkan jaring ikan atas nama Allah. Ternyata, dia berhasil menangkap ikan besar dan menjualnya di pasar. Uang hasil penjualan dia belikan sepotong roti kecil.

Dalam perjalanan pulang, dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat miskin dan anak laki-lakinya sedang dalam kondisi kelaparan. Mereka hanya memandang roti yang dibawa Abu Nasr. Abu Nasr memikirkan keluarganya yang kelaparan juga, tapi ingat Allah tidak akan meninggalkannya. Maka ia memberi roti kecil itu pada wanita dan anaknya yang miskin tadi. Wanita tersebut tampak senang dan berterima kasih sambil menangis. 

Abu Nasr pulang dalam keadaan sedih karena tidak membawa makanan sedikit pun. Tapi, baru tiba di rumahnya, seorang pria mengetuk pintu dan bertanya, “Apakah ini rumah Abu Nasr As- Sayyad?” Setelah Abu Nasr mengiyakan, tamu tadi langsung memberinya sejumlah uang yang diakuinya telah dipinjam dari almarhum ayah Abu Nasr. Abu Nasr heran tapi juga bahagia.

Setelah itu, Abu Nasr menggunakan uang tadi untuk memberi makan keluarganya sekaligus berusaha. Dia pun menjadi pedagang dan menjelma menjadi orang yang sangat kaya. Hanya saja, dia mulai sombong dan beramal hanya untuk memamerkan kekayaannya.

Suatu malam, Abu Nasr bermimpi berada di hari penghakiman, ketika malaikat mengukur perbuatannya selama hidup. Ternyata, setelah ditimbang, perbuatan buruk Abu Nasr beratnya sebesar gunung dan amal baiknya hanya seringan seikat kapas. Penyebabnya, meski dia sering beramal, tapi amalan tersebut sia-sia karena dia hanya pamer dan tidak tulus.

Malaikat kembali bertanya, “Adakah kebaikan yang tersisa?” Menurut Abu Nasr, dia pernah memberikan roti kecil kepada wanita miskin meski dia sendiri kelaparan. Amalan tadi ditambahkan malaikat dan, memang, berat kebaikannya mulai bertambah karena sebesar ribuan dirham. Tapi masih kurang bobotnya dibanding amal jahatnya.

Malaikat bertanya apalagi yang tersisa. Abu Nasr kemudian menjawab senyum anak kecil miskin tadi yang mendapatkan roti. Setelah ditambahkan, timbangan amal buruk dan amal baiknya jadi seimbang.

Sekali lagi, malaikat bertanya apakah ada yang masih tersisa. Tambahkanlah air mata wanita miskin tadi yang menangis bahagia. Air mata tersebut ternyata sebesar lautan. Hasilnya, timbangan Abu Nasr berubah. Perbuatan baik lebih banyak dibanding jahatnya. Malaikat pun berkata dia terselamatkan. Begitu bangun, Abu Nasr memohon ampun pada Allah dan bersyukur atas sepotong roti kecil itu.

Terdapat pula kisah lain dalam Al-Kharaz, karya Abu Yusuf, seorang ulama besar pengikut Mazhab Hanafi. Suatu ketika, Umar bin Khattab lewat di depan rumah salah satu rakyatnya. Tampak di dekat pintu rumah tersebut ada seorang kakek tunanetra sedang mengemis. Umar segera menghampiri dan menepuk lengan kakek itu sambil bertanya, “Engkau dari agama apa?” Kakek itu menjawab, “Yahudi.” “Lalu apa yang mendorongmu ke sini?” tanya Umar lagi. “Aku meminta bagian pajak, usiaku sudah tua, dan perlu uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku,” jawab kakek tadi.

Mendengar jawabannya, Umar segera membawa kakek tersebut ke rumahnya dan diberikan bantuan untuk kebutuhan hidupnya. Umar juga memanggil penjaga baitul mal untuk memberikan santunan pada kakek itu. Oleh : Muhammad Idris Panjaitan Program 1.000 Da’i Parabek

On 31-10-2022 0 697

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll to Top
Open chat
1
Anda butuh bantuan?
Assalamu'alaikum wr wb, Kami Yayasan BAMUIS BNI mempunyai beberapa program penyaluran yang tersedia, antara lain:
- Program Pendidikan
- Program Kesehatan
- Program Pemberdayaan Ekonomi Dhuafa (BMUK)
- Program Santunan Kemanusiaan
- Program 1000 TPA
- dsb

Mohon untuk dapat diinformasikan kepada kami, apa yang bisa kami bantu?