Dalam pandangan kita, orang cerdas sering diukur dari IQ yang tinggi atau prestasi akademik yang gemilang. Namun, Rasulullah SAW memberikan definisi yang berbeda. Orang cerdas bukan hanya soal kecerdasan duniawi, tetapi tentang seberapa siap mereka menghadapi akhirat. Mengapa demikian? Imam mengatakan bahwa orang yang banyak mengingat mati akan memperoleh tiga keuntungan besar:
Bertaubat dengan Segera – Setiap kali kita ingat mati, hati kita lebih mudah terbuka untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Semangat Beribadah – Kesadaran akan kematian mendorong kita untuk mengumpulkan bekal terbaik, yakni amal ibadah yang ikhlas.
Rendah Hati – Orang yang selalu ingat kematian tak akan mudah terjebak dalam kesombongan, meskipun sedang berada di puncak kekuasaan atau kemakmuran. Sebab ia tahu, dunia ini hanyalah persinggahan sementara.
Seseorang yang ingat mati tidak akan terikat pada “Hubbud Dunia” (cinta dunia). Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Adakah seseorang yang akan dikumpulkan bersama para syuhada (orang-orang yang mati syahid)?” Rasulullah menjawab, “Ada, yaitu mereka yang paling banyak mengingat mati.” Bahkan, jika seseorang mengingat mati 20 kali sehari semalam, Rasulullah mengatakan mereka akan memperoleh pahala mati syahid meskipun tidak terjun langsung ke medan perang.
Rasulullah mengajarkan kita untuk mengingat mati dalam setiap kesempatan, baik sebelum tidur maupun saat bangun. Beberapa sahabat Nabi bahkan memiliki cara yang sangat unik untuk mengingat mati. Ada yang menggantungkan kain kafan di kamarnya, atau membuat liang lahat di rumahnya sebagai pengingat akan kematian yang tak terhindarkan.
Namun, yang lebih penting dari sekadar mengingat mati adalah bagaimana kita mempersiapkan kematian itu. Ingatan tanpa tindakan hanyalah hampa. Nabi SAW mengajarkan bahwa mukmin yang cerdas tidak hanya banyak mengingat mati, tetapi juga mempersiapkan diri dengan baik untuk kehidupan setelahnya.
Bagaimana cara kita mempersiapkan diri? Para ulama mengajarkan bahwa kita harus mengarahkan orientasi hidup kita ke akhirat, bukan dunia. Dunia ini hanya sementara, seperti yang Rasulullah katakan, usia manusia rata-rata 60 hingga 70 tahun, dan jika lebih dari itu, itulah anugerah dari Allah SWT. Maka, hidupkan niat kita dengan tujuan akhirat.
Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
(QS. Ad-Duha: 4)
Dan juga:
“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)
Ingatlah selalu, kehidupan akhirat itu abadi dan lebih baik dari dunia yang fana ini. Persiapkanlah diri kita sebaik mungkin untuk menyongsong hidup abadi itu dengan penuh kebaikan.